Kebebasan Finansial

7 Faktor yang Memengaruhi Penentuan Perencanaan Dana Pensiun

Saat kita sedang membuat perencanaan dana pensiun, pastinya kita mau agar rencana tersebut bisa detail dan komprehensif, ya kan? Tapi, pada praktiknya, membuat perencanaan dana pensiun itu nggak gampang.

Kenapa?

Karena ada banyak faktor dan elemen yang memengaruhi perencanaan dana pensiun ini. Nggak cuma soal menghitung berapa besarannya saja—yang ini saja banyak banget komponennya—tetapi juga ada elemen-elemen nonfinansial yang perlu kita perhatikan juga.

Memangnya perlu untuk memperhatikan hal-hal di luar finansial dalam perencanaan dana pensiun ini? Oh, perlu sekali. Pasalnya, hal-hal ini juga akan memengaruhi keuangan juga. Seperti apa? Nah, ini yang akan kita bahas sekarang dalam artikel kali ini.

7 Faktor yang Dapat Memengaruhi Perencanaan Dana Pensiun

Merencanakan Dana Pensiun, Jangan Sampai Melakukan 9 Kesalahan Ini!

Utang

Well, utang sih ya berhubungan sama finansial sih, tapi kita harus ingat, bahwa utang juga ada hubungannya sama mindset.

Ada loh yang punya pikiran, “Kalau nggak ada utang, nggak seru!”

Nah, ya kalau kamu masih punya penghasilan aktif sih masih bisa diatur. Meski banyak juga yang akhirnya terjerat dan kegulung utang yang nggak ada habisnya. Nggak lucu kan, kalau ini juga kejadian ketika kita sudah masuk ke masa pensiun?

Karenanya, adalah penting untukmu menjawab pertanyaan: apakah kamu punya mindset seperti ini? Semoga sih enggak. So, PR yang harus segera dicari solusi adalah bagaimana caranya agar utang yang ada sekarang bisa segera dilunasi, sebisa mungkin sebelum masa pensiun tiba. Cek skema pembayaran cicilan utangmu ya, pastikan sudah lunas pada waktunya.

Karena kalau enggak, maka ini akan sangat memengaruhi perencanaan dana pensiunmu kelak. Kamu harus menambahkan cicilan utang ke dalam pos pengeluaran, dan ini akan sangat menambah beban keuanganmu.

Gaya hidup

Seharusnya, ketika masuk ke usia pensiun, beban kita itu enggak sebesar ketika masih dalam usia produktif. Tapi, faktanya, enggak selalu gitu juga. Coba cek artikel yang pernah ditulis tentang pengeluaran di masa pensiun.
Nah, kalau mau lebih ringan sih, pastinya dengan “menurunkan” standar, meski ini sebetulnya bisa dihindari kalau kamu memiliki perencanaan pensiun yang matang.

Hanya sekadar mengingatkan bahwa “menurunkan” gaya hidup itu nggak mudah loh! Meski misalnya memang beban pengeluaran enggak banyak lagi—sudah berkurang pos untuk cicilan KPR, atau untuk support anak yang sudah pada mandiri—tapi yakin banget, agak sulit buat kita untuk segera menyesuaikan bujet untuk hidup sesuai dengan masa pensiun.

Pendekatan yang lebih baik untuk hal ini adalah memodifikasi pola konsumsi jauh-jauh hari sebelum mulai masuk masa pensiun. Jangan sampai awal pensiun malah jadi semacam diet finansial buat kamu. Bikin insecure! Kebiasaan yang tiba-tiba diubah itu bisa membuat kita jadi gagap arah loh.

So, kebiasaan belanja harus mulai disesuaikan. Sejak kapan? Kamu tentukan sendiri deh, tapi lebih dini lebih baik. Bahkan kalau bisa ya mulai dari sekarang.

Proyeksikan pengeluaranmu selama masa pensiun. Pos apa yang akan dipertahankan, pos apa yang dikurangi atau dihilangkan, dan pos apa yang perlu ditambahkan.

perencanaan dana pensiun 1

Skema Mendapatkan “Penghasilan”

Nah, mengingatkan sekali lagi, bahwa pengeluaran selama masa pensiun belum tentu akan lebih kecil. Coba cek lagi artikel yang sudah ditautkan di atas ya.

Pada kenyataannya, kita masih tetap akan butuh “penghasilan” untuk membiayai kebutuhan hidup kita juga. Penghasilan diberi tanda petik, karena bisa berarti bukan penghasilan aktif.

Lalu, seberapa besar kamu butuh “penghasilan” ini? Dan, gimana skemanya ketika benar-benar mulai pensiun nanti?

Misalnya, jika sekarang dana pensiunmu kamu simpan dalam instrumen saham, bagaimana nanti skema pengambilannya untuk membiayai kebutuhan hidup di masa pensiun? Apakah setiap bulan diambil sekian persen? Atau mau hidup dari dividen? Atau, bagaimana?

Ini juga perlu banget kamu pikirkan selama kamu sedang membuat perencanaan dana pensiun, terutama jika kamu berurusan dengan instrumen-instrumen yang kamu kelola sendiri.

Kondisi kesehatan

Sebagai lansia—nggak perlu menolak tua, ketimbang halu dan kemudian lupa berencana—kesehatan kita sudah tentu tak lagi sebugar sekarang. So, pastikan kamu sudah memasukkan asuransi kesehatan, berikut dana perawatan kesehatan tambahan jika perlu, ke dalam perencanaan dana pensiun kamu.

Apakah kamu sekarang memiliki penyakit kritis? Apakah kamu punya riwayat penyakit tertentu dalam keluarga, yang bersifat genetik? Apakah asuransi kesehatan yang kamu miliki sudah meng-cover penyakit tersebut?

Apakah perlu menambah premi asuransi untuk penyakit kritis?
Jangan terlalu mengandalkan asuransi juga. Jika memang mampu, milikilah dana perawatan kesehatan sendiri di samping asuransi kesehatan. Mungkin akan ada beberapa perawatan yang perlu kamu lakukan, tetapi tidak dapat di-cover oleh asuransi.

Proyeksikan kebutuhanmu akan kesehatan dengan cermat.

7 Faktor yang Memengaruhi Penentuan Perencanaan Dana Pensiun

Tujuan hidup

Yang sering terjadi adalah ketika sudah masuk ke masa pensiun, baru deh kita menyadari betapa kesibukan bekerja itu sangat penting bagi hidup kita. Tak sekadar untuk mendapatkan penghasilan, karena di situ pulalah, kita mendapatkan eksistensi dan pengakuan dari orang lain bahwa diri kita itu “berguna”.

Karena itu, banyak pensiunan yang lantas menderita post power syndrome di awal masa-masa pensiun, karena tiba-tiba rasa “dibutuhkan” oleh orang lain itu sudah tak ada lagi. Kita jadi mempertanyakan, apa tujuan hidup kita, setelah tak lagi bekerja dan “berguna” untuk orang lain.

Ya, kalau ada pertanyaan seperti itu sih, seharusnya kamu bisa jawab, “Sekarang, waktunya untuk berguna bagi diri sendiri.”

Nah, pertanyaan lanjutan: mau berguna dalam hal apa bagi diri sendiri?
Mau punya bisnis paruh waktu? Memiliki karier kedua, yang tak lagi berorientasi pada pemasukan, tetapi lebih pada minat dan passion? Atau lebih banyak fokus ke aktivitas sosial, barangkali?

Hal ini juga akan memengaruhi perencanaan masa pensiun kamu. Jadi, pastikan juga masuk ke dalam skema rencana ya.

Kondisi keluarga

Kondisi keluarga juga mau tak mau harus ikut diperhitungkan.
Ada keluarga-keluarga yang suka ngumpul. Pertimbangannya bermacam-macam sih, dan itu kembali ke masing-masing keluarga ya.

Jika memang ngumpul, pastinya rencana pensiun akan berbeda dengan misalnya kita tinggal memisah. Kalau ngumpul, biasanya sih bisa saling urus. Kalau memisah, mungkin nggak perlu perawat? You know, lansia kan sudah terbatas ya, kemampuannya? Lagi-lagi kita mesti realistis dong.

Meski ada pasangan, ya mungkin butuh tambahan bantuan.

Atau mungkin pengin tinggal di rumah komunitas khusus lansia gitu? Jangan remehkan panti jompo loh! Ada lo panti jompo eksklusif, yang berfasilitas lengkap bak hotel.

Nah, ini nanti akan erat kaitannya dengan poin no.7

alternatif investasi saat bunga deposito turun

Rumah tinggal

Iya, mau tinggal di mana? Tinggal di pusat kota Jakarta sebagai pensiunan tentu akan berbeda rencana pensiunnya dengan kalau kita mau tinggal di pinggiran Jakarta.

Beda lagi kalau mau tinggal di gunung. Rumah mungkin kecil saja, tapi kebon yang gede.

Masing-masing orang memang punya kriteria hidup pensiun yang ideal menurut versinya sendiri-sendiri. Dan, ini tentu harus masuk ke dalam skema perencanaan dana pensiun yang komprehensif.

Nah, setelah lihat ketujuh poin di atas, jadi tambah pusing nggak?
Semoga enggak ya. Yuk, segera jadiin rencana pensiun kamu!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.