Kebebasan Finansial

Program Pensiun DPPK dan DPLK: Apa Bedanya?

Kamu pasti sudah akrab dengan program pensiun yang diselenggarakan oleh pemerintah, yaitu Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua dari BPJS Ketenagakerjaan. Mungkin kamu juga sudah jadi pesertanya, ya?

Tapi, tahukah kamu bahwa ada dua program pensiun lain selain JHT dan JP BPJS Ketenagakerjaan? Well, yang satunya sih mungkin enggak untuk publik ya, tetapi yang lainnya bisa juga jadi alternatif tambahan, jika kamu berpikir bahwa Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan ini masih kurang memadai untukmu membangun dana pensiun. Ada yang namanya DPPK dan DPLK.

Menjalani Masa Pensiun Sejahtera

4 Tahap Masa Pensiun, dan Hal Keuangan Apa Saja yang Harus Disiapkan?

Setiap orang tentunya menginginkan bahwa kelak di hari tua, saat memasuki masa pensiun, kita bisa tetap hidup sejahtera. Yaaah, minimal mandiri deh. Nggak membuat anak-anak kita menjadi sandwich generation berikutnya. Biar yang jadi generasi roti isi ini berhenti di kita sajalah. Kelak saat memasuki masa pensiun nanti, kita seharusnya bisa mandiri—bisa memenuhi kebutuhan kita sendiri.

Ya, syukur-syukur kita bisa hidup sejahtera juga.

Kalau kamu seorang ASN, ada ketentuan bahwa masa pensiun akan dimulai ketika kamu berusia 58 tahun. Namun, bagi kamu yang non-ASN, dalam Undang-Undang Nomo 13 Tahun 2003 sebenarnya tidak pernah disebutkan mengenai batas usia pensiun yang sebaiknya diambil oleh pekerja sektor swasta. Hanya saja, kalau memang masih dibutuhkan, bisa saja kamu masih bekerja hingga usia 60 tahun, bahkan sampai 80 tahun.

Tapi ya, pastinya kondisi kesehatan kamu benar-benar harus fit.

Definisi “pensiun sejahtera” sendiri juga enggak pernah ada, karena kondisi “sejahtera” sudah pasti sangat relatif, bakalan beda untuk satu orang dengan yang lainnya. Apalagi ini sangat bergantung pada dana pensiun yang bisa enggak kita kumpulkan sesuai target.

Kan, Ada BPJS Ketenagakerjaan?

Menyiapkan Dana Pensiun di Masa Krisis

Betul, untuk ASN dan semua karyawan kantoran biasanya sudah secara otomatis  menjadi peserta program pensiun BPJS Ketenagakerjaan. Tetapi, buat para pekerja mandiri, mereka harus inisiatif sendiri untuk membangun dana pensiun (meskipun sebagian besar para pekerja kreatif ini sudah bekerja sesuai passion sehingga kadang terpikir untuk nggak pernah pensiun). Di samping, adanya pemikiran bahwa dana pensiun dari BPJS Ketenagakerjaan saja enggak cukup, lantaran nantinya akan diberikan pada para pesertanya secara bulanan, dan paling-paling hanya bisa menerimakan 38% dari gaji terakhir sebelum pensiun.

Karenanya, adanya alternatif dana pensiun yang lain bisa jadi opsi tambahan. Semakin banyak opsi sudah pasti akan lebih baik kan? Seenggaknya bisa menjamin bahwa kita nanti bisa menjalani masa pensiun sejahtera.

Nah, di sinilah DPPK dan DPLK bisa berperan.

Apa Itu DPPK dan DPLK?

Pengeluaran Uang di Masa Pensiun Lebih Sedikit? Yakin?

DPPK

DPPK adalah Dana Pensiun Pemberi Kerja, yaitu program pensiun manfaat pasti ataupun iuran pasti yang diselenggarakan oleh pemberi kerja selaku pendiri bagi kepentingan dana pensiun para karyawannya. Dengan menyelenggarakan DPPK, maka pemberi kerja pun berkewajiban untuk menyiapkan dana yang kemudian bisa dimanfaatkan oleh karyawan ketika mereka memasuki masa pensiun.

Jadi, penyelenggara DPPK harus pemberi kerja, dalam hal ini perusahaan? Betul, meskipun kepesertaannya bisa juga dari perusahaan lain. Yang menyelenggarakan disebut Pendiri, sedangkan perusahaan lain yang “menitipkan” dana pensiun ke Pendiri disebut Mitra Pendiri.

DPLK

DPLK, atau Dana Pensiun Lembaga Keuangan, merupakan program pensiun iuran pasti yang diselenggarakan oleh lembaga keuangan, misalnya bank atau perusahaan asuransi jiwa, demi kepentingan masyarakat umum. Jadi, siapa pun boleh ikutan program ini, asalkan memenuhi segala syarat dan ketentuan yang berlaku.

DPLK bisa menjadi salah satu opsi bagi pemberi kerja untuk mengelola asetnya sendiri. Dengan mengikutsertakan karyawannya dalam program pensiun DPLK, pemberi kerja atau perusahaan bisa mengelola cash flow dengan lebih baik, sehingga nantinya enggak akan mengalami masalah keuangan ketika harus memberi pensiun pada karyawannya.

Apa Beda Program Pensiun DPPK dan DPLK?

Program Pensiun DPPK dan DPLK: Apa Bedanya?

Penyelenggara

DPPK diselenggarakan oleh pemberi kerja, baik itu perseorangan maupun perusahaan, untuk kepentingan karyawannya.

DPLK diselenggarakan oleh lembaga keuangan umum, seperti bank atau perusahaan asuransi jiwa. Bank dan perusahaan asuransi ini sebenarnya boleh melaksanakan baik DPPK maupun DPLK, tetapi pengelolaannya harus dilakukan secara terpisah.

Jenis Program

DPPK dapat menyelenggarakan jenis program pensiun iuran pasti maupun manfaat pasti, yang dapat ditentukan dengan mempertimbangkan kemampuan si pemberi kerja. Penyelenggaraan DPPK ini tidak diwajibkan oleh pemerintah, tetapi dianjurkan mengingat manfaat besar yang bisa diberikan pada karyawan di masa pensiun nanti.

Sedangkan DPLK hanya dapat menyelenggarakan jenis program pensiun dengan iuran pasti, yang memungkinkan pemberi kerja dan karyawan menyetorkan iuran dengan jumlah yang pasti dan sudah ditetapkan. Nantinya, dana ini akan dialokasikan ke instrumen-instrumen investasi yang sesuai agar berkembang dengan baik.

Sebentar, apakah kamu masih bingung dengan manfaat pasti dan iuran pasti? Well, nanti kita akan bahas khusus dalam artikel terpisah saja ya, supaya artikel kali ini enggak kepanjangan.

Peserta

Peserta program pensiun DPPK adalah karyawan dari pemberi kerja pendiri program pensiun yang bersangkutan, meskipun bisa jadi ada juga karyawan perusahaan lain yang ikutan.

Sementara, DPLK bisa lebih terbuka kepesertaannya. Boleh dari kalangan karyawan, pemilik bisnis, juga para pekerja mandiri.

Iuran

Iuran yang ditetapkan, baik oleh DPPK maupun DPLK, harus disetorkan setiap bulan. Yang membedakan antara DPPK dan DPLK di sini adalah pembagian beban iuran tersebut.

Kalau di DPPK, beban iuran dana pensiun akan dibagi antara pemberi kerja dan karyawan. Persentasenya gimana? Nah, ini sesuai kesepakatan bersama.

Sedangkan di DPLK, iuran sepenuhnya menjadi beban peserta program pensiun. Pemberi kerja bebas dari beban iurannya.

Kesimpulan

Merencanakan Dana Pensiun, Jangan Sampai Melakukan 9 Kesalahan Ini!

Nah, demikianlah sekilas mengenai beberapa program pensiun yang bisa menjadi alternatif dari Jaminan Pensiun dan Jaminan Hari Tua BPJS Ketenagakerjaan, berikut perbedaannya.

Semoga sudah jelas ya? Gimana, apakah kamu mau menambah DPLK? Atau mungkin perusahaan tempat kamu bekerja sudah punya DPPK sendiri?

Selain dengan program pensiun BPJS Ketenagakerjaan, DPPK, maupun DPLK, akan baik juga untukmu kalau kamu melengkapinya juga dengan membangun aset aktifmu sendiri. Misalnya saja dengan surat berharga ataupun properti. Dengan demikian, jaminan masa pensiun sejahtera akan semakin jelas juga untukmu.

Semoga artikel ini bermanfaat ya.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.