Equity Reksadana

Review Reksadana Schroder

Setelah sebelumnya review DPLK, maka sekarang waktunya kita membahas reksadana terbesar Indonesia satu persatu. Dimulai dengan Review Reksadana Schroder, Manajer Investasi yang bisa dikatakan paling beken di Indonesia. Walau dalam beberapa tahun terakhir berada dalam tekanan dari persaingan Manajer Investasi lainnya.

Tapi ya gapapa tooh. Persaingan ketat bagus untuk mengkoreksi diri. Sebelumnya bisa dibilang Schroder terlalu mendominasi pasar reksadana di Indonesia, uda kek monopoli aja dulu, semua subscribenya ke Reksadana Schroder.

Dua Produk andalan Reksadana Schroder

Asal muasal Schroder Investment ini dari Inggris, dan merupakan salah satu reksadana pioneer di Indonesia.

MI yang berkantor di BEJ ini memiliki produk andalan, yaitu reksadana Schroder Dana Prestasi Plus (SDPP), diluncurkan pada tahun 2000, hanya dua tahun berselang sejak krismon 98 ( berani juga ya ?? ).

Dulu waktu jaman gue masih jadi broker, nasabah gue banggaaa bangeeet jadi salah satu pembeli pertama reksadana SDPP ini. Soalnya sekarang NAVnya sudah 35 ribuan. Dulu doi beli ketika masih 1000.

*FYI, reksadana pertama kali terbit NAV nya 1000

Selain dari SDPP, produk lain yang sangat tinggi peminatnya, terutama melalui channel distribusi perbankan adalah Schroder Dana Kombinasi ( SDK), Reksadana campuran citarasa pasar uang.

Review Reksadana Schroder Dana Prestasi Plus

Reksadana Schroder Dana Prestasi Plus

gambar merupakan Fund Fact Sheet SDPP Maret 2020

Bagi nasabah-nasabah prioritas perbankan Indonesia, usia lanjut, Most likely punya produk reksadana Schroder Dana Prestasi Plus ini. Sekarang walaupun kinerjanya tidak secemerlang dulu, tetap saja begitu kuat di mindset para nasabah ini, reksadana Schroder pasti bagus.

Seperti gue bilang tadi, pada masanya Schroder ini uda kayak monopoli pasar reksadananya Indonesia,Konon reksadana SDPP memiliki aset kelolaan terbesar di Indonesia hingga mencapai 13 triliun lebih (skr jg masi kayake ). Saat ini dana kelolaan tersebut turun menjadi 9,3 triliun, secara kan IHSG turun sampai -30%.

Masalahnya reksadana SDPP ini, karena asetnya yang terlalu besar, jadi susah geraknya.

saham yang likuid di IHSG ga banyak. Ga jauh – jauh dari perbankan, konsumsi, sama telkom. Saham itu lagi saham itu lagi.

Kalau dana kelolaan sudah terlalu besar susahnya begitu.. bayangin aja, 1% dari 9,3 triliun itu 93 miliar.

Mau beli saham 1% porto aja mesti belanja sebesar 93 miliar..ga banyak saham yang mampu absorb pembelian segede itu.

Contoh saja saham konstruksi waskita, nilai rata – rata transaksi hariannya hanya sekitar 15 miliar. Apabila reksadana Schroder Dana Prestasi Plus memutukan membeli 1% dari portfolionya, maka butuh membeli saham wskt ini selama 9 hari berturut turut, dan bakalan bikin sahamnya auto reject atas !!

Naah pusink kan yang ngelola..

Biar kata bagus, kalau ga likuid, ya ga bisa beli..

Kelebihannya, dengan dana kelolaannya yang besar, Schroder hanya mengenakan MI fee yang rendah, max 2,5% setahun.. Kalau gue ga salah, ini yang paling rendah dari seluruh reksadana saham di Indonesia. Bahkan setau gue prakteknya mereka hanya mencharge 1,5% – 2% setahunnya.

Permasalahan kedua, sama seperti yang dialami reksadana saham lainnya di Indonesia, gagal mengalahkan kinerja Benchmark nya yaitu IHSG.

Padahal IHSG nya sendiri 8 tahun terakhir kinerjanya ancur lebur..jadi buat para investor Reksadana saham, dijamin gigit jari deeh.

Untuk Average returnnya 5 tahun terakhir, dilihat saja di fact sheetnya, ga tega gue ngomong nya, yang pasti minus aja.

Review Reksadana Schroder Dana Kombinasi

Review Reksadana Schroder Dana Kombinasi

Produk kedua yang gue bahas yaitu reksadana campuran Schroder Dana Kombinasi (SDK).

Buat para investor reksadana perlu tau niih, ini Produk super beken buat kalangan nasabah prioritasnya perbankan..

Walau judulnya campuran, tapi produk ini karakter nya sangat konservatif, bahkan lebih konservatif dari reksadana pendapatan tetap. Mirip – mirip kayak reksadana pasar uang yang melakukan penempatan pada obligasi korporasi. Perbedaannya, karena mereka campuran, bisa membeli yang tenor lebih panjang dari satu tahun

Objektif dari reksadana SDK ini mengalahkan bunga deposito nett + 2%. MI fee dari reksadana ini maksimal 1,5%.

Dilihat dari average returnnya sih antara 6 – 6,5% nett setahun yaa (selalu diingat kalau bunga deposito itu gross belum dipotong pajak 20%).

Karena investasinya kebanyakan pada obligasi korporasi tenor pendek, maka kinerja dari reksadana SDK ini stabil banget, konsisten naik pelan – pelan.

Tetap ada sedikit fluktuasi, tapi kalau kita hold dengan jangka waktu satu tahun, most likely uda pasti untung ( selalu disc mode on*).

Namun akibatnya kita juga ga bisa berharap terlalu banyak kinerja reksadana ini bakal naek banyak. Bagus – bagusnya Yaa paling banter 8 – 9%an setaon laah.

Walaupun merupakan produk reksadana campuran, sepanjang pengamatan gue alokasi kesahamnya minim banget, maksimal Cuma 5%. Malah dari fund fact sheet terakhir Cuma 1% kan.

Dengan objektif dan track recordnya, profile reksadana ini cocok banget buat nasabah yang mau aman ga suka investasi yang fluktuatif. Seperti deposito, tapi bisa dicairkan dalam 3 hari, eenak kaan.

Perbandingan Kinerja Reksadana SDPP & SDK

Berdasarkan chart dari awal 2016 hingga akhir 2017 dibawah dapat kita lihat, bila kita memutuskan investasi ketika saham sedang rally, tentu investasi SDPP lebih menarik, memberikan return 30% dalam 2 tahun atau 15% setahunnya, sementara SDK sekitar 16% atau 8% setahunnya.

Namun yang perlu dicatat, secara relatif kinerja SDPP ini kurang baik karena lebih rendah dari benchmarknya IHSG.

Kinerja Reksadana Schroder 2016 - 2017

Gambar diambil dari IPOT GO

Sementara bila kita melihat dari chart kinerja 2012 – 2020 Mei, terlihat disini kestabilan dari kinerja SDK. Kadang ketika momentum sedang bagus SDPP dapat melampaui SDK, begitu juga sebaliknya, ketika terjadi situasi krisis seperti saat ini, SDK menunjukkan kestabilan kinerja jauh lebih baik, sementara SDPP turun mendekati minus.

Sebagai investor yang mencari imbal hasil absolut, jelas produk SDK ini pemenangnya dibandingkan SDPP.

Kinerja Reksadana Schroder 2012 - 2020 Mei

Summary Review Reksadana Schroder

Gue secara personal suka sama ide dari Schroder Dana Kombinasi ini, dimana goalnya ini memberikan imbal hasil diatas deposito. Tapi dengan rata – rata imbal hasil berkisar 6,5% setahun gue masih kurang puas yaa.

Dibandingkan dari benchmarknya sendiri kinerja reksadana ini lebih rendah dalam 5 tahun terakhir. Artinya memang perlu evaluasi lagi dari MI nya niih, antara meningkatkan potensi imbal hasil dari obligasi dan sahamnya dengan meningkatkan risiko, atau apabila sudah nyaman dengan tingkat risiko yang diambil maka konsekuensinya menurunkan MI Fee.

Sementara untuk reksadana saham. Gue melihat bukan hanya SDPP aja, tapi hampir semua reksadana saham di Indonesia memiliki kinerja yang buruk, dibawah dari IHSG. Padahal seperti sering gue bahas, IHSGnya sendiri perfomancenya hancur lebur dalam 7-8 tahun terakhir.

So hasil review reksadana schroder ini gue bisa bilang reksadana Schroder Dana Kombinasi merupakan produk bagus dengan kinerja Ok laah.

Masalahnya dibandingkan kompetitor, setau gue saat ini SDK masih yang terdepan. Jadi berasa puas mereka kayaknya ngelihat kinerja secara relatif bandingin kompetitor. Padahal kinerjanya dibandingin benchmark yang mereka buat sendiri kalah.

Kalau mereka mampu memberikan imbal hasil yang secara absolut lebih menarik, misal 7,5% nett gitu rata – rata setahunnya buat investor, dan secara relatif lebih baik dari benchmark yang mereka buat sendiri. Gue bakal rekomen banget produk ini sebagai pilihan dalam berinvestasi 1 – 2 tahun.

2 Comments

  1. Gusti May 27, 2020
    • Slave Berdasi June 20, 2020

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.